20 Sep, Friday
° C
Top

YABI Edukasi Masyarakat Soal Penting Melestarikan Badak Indonesia

Dinamikabogor.com – Guna lebih melestarikan badak Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI) mengadakan acara talkshow di Lippo Mall Ekalokasari Bogor pada Minggu siang, 14 Juli 2019.

Acara yang mengusung tema “Badak Sang Pejuang Pemeliharaan Hutan; Meredam Dampak Perubahan Iklim” sekaligus untuk mengajak peserta yang terdiri dari mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum melestarikan badak Indonesia.

Direktur YABI, Widodo Ramono mengatakan, pihaknya mengadakan acara talkshow yang bertepatan dengan 10 Years Climate Reality Indonesia ini bertujuan agar masyarakat yang hadir mengetahui pentingnya melestarikan badak Indonesia. 

“Saya ingat 10 tahun lalu tepat bulan Juli, kami dilatih untuk mengetahui tentang perubahan iklim. Dipahami oleh kita, bahwa perubahan iklim sudah terjadi di Indonesia dan banyak masalah-masalah yang menganggu kehidupan,” kata Widodo kepada awak media di sela acara. 

Menurut Widodo, bahwa badak mempunyai peran penting dalam melestarikan hutan. Dan hutan sendiri merupakan suatu ekosistem yang sangat penting untuk sistem pendukung kehidupan. Oleh karenanya, pihaknya mengajak untuk sama-sama melestarikan badak. 

“Kami ingin manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, mengajak semua untuk melestarikan badak dan untuk mencoba membantu meredam perubahan iklim yang drastis ini. Kitalah yang harus memulai, maka YBI upayakan dialog dengan para pakar, dokter hewan dan pengelolaan kawasan konservasi,” ujarnya.

Adapun narasumber dimaksud adalah Mamat Rahmat (Kepala Subdit Pemulihan Ekosistem Ditjen Kawan Konservasi), Muhammad Muslich (Koordinator Program Konservasi WCS Indonesia), Amanda Katili Niode (Manajer The Climate Reality), Jony Yuwono (Direktur PT Sinde Budi Sentosa) dan Widodo Ramono sendiri.

Berdasarkan data dikantongi YBI, populasi badak Jawa saat ini di Taman Nasional Ujung Kulon antara 68 sampai 70 ekor. Keberadaan badak Jawa di taman ini terbilang dalam posisi stabil dan gampang dilindungi karena dibatasi oleh laut serta kawasannya dapat diamati dengan baik. 

“Di sana kami dari YBI membantu untuk perlindungan. Ada lima unit rhino protection untuk membantu di sana dan sejak tahun 1998 tidak ada perburuan liar terhadap badak Jawa. Namun untuk badak Sumatera, masalahnya perubahan lahan dan penggunaan untuk kepentingan lain membuat terputusnya jalur migrasi sehingga menurun jumlah individunya,” katanya. 

Sekarang ini, imbuh Widodo, di ekosistem Luser sudah terbagi menjadi dua kelompok. Untuk kelompok Leuser Barat masih dianggap baik dengan populasi 15 badak Sumatera. Sedangkan kelompok Leuser Timur sekarang hanya terdapat sembilan individu sehingga harus diselamatkan juga segera dibuat penangkaran. 

Masih kata Widodo, untuk di Tanam Nasional Bukit Barisan Selatan dan Waykambas polulasi badak tinggal 30 ekor dan itu di luar tujuh ekor yang berada di penangkaran. Ia mengakui bahwa populasi badak Indonesia sudah menurun disebabkan pertama oleh perubahan lahan sehingga habitatnya telah digantikan manusia.

Kedua, lanjutnya, perilaku kawin badak Sumatera itu unik, salahsatunya badak betina hanya mau ditemui badak lain selama empat hari dalam waktu 24 hari. Sementara dari empat hari itu, hanya satu hari waktu paling baik, bakal telur dengan diameter 19-20 milimeter.

“Jadi harus mempertemukan untuk mengawinkan badak-badak di waktu yang pas. Kalau tidak pas, badak akan berkelahi dan terluka. Nah, harapan sekarang adalah kita sudah tahu mengembangkan biakan badak dan kedepan bagaimana mendapatkan anak badak sebanyak-banyaknya dengan kondisi sebaik-baiknya,” tukasnya. 

Selain talkshow, acara juga diisi dengan berbagai kegiatan lainnya, seperti lomba mewarnai, kuis dan permainan. Selanjutnya penandatanganan bersama di atas media spanduk sebagai bentuk komitmen melestarikan dan melindungi badak Indonesia. (Haris

What's your reaction?

Post a Comment