27 Feb, Thursday
° C
Top

Kontraktor RSUD Hanya Minta Pertambahan Waktu Tiga Hari

Dinamikabogor.com, Bogor – Pembangunan RSUD Kota Bogor yang dilaksanakan oleh PT Trikencana Sakti Utama, dijadwalkan selesai pada 27 Desember 2019. Namun hingga akhir batas waktunya, pembangunan belum selesai dilaksanakan, sehingga pihak pelaksana masih menyelesaikan proyek pembangunan senilai Rp89 Miliar tersebut. 

Apa yang menjadi penyebab sehingga terjadi keterlambatan penyelesaian pembangunan tidak terlaksana tepat waktu.

Pihak PT Trikencana Sakti Utama melalui Direktur Operasional Anwar Ali didampingi Deputi Project Manager, Tri Suroto memberikan penjelasan, pembangunan fisik memang sudah selesai, tetapi karena ada penyelesaian pada system dan lainnya, maka tidak bisa tepat waktu sesuai dengan kontrak yaitu 27 Desember 2019. Untuk itu, dilakukan perpanjangan waktu selama tiga hari.

“Ada beberapa penyelesaian pekerjaan system di beberapa titik dan termasuk tower crine yang belum ditentukan, sehingga otomatis pekerjaan mundur selesainya. Kami sudah meminta perpanjangan waktu tiga hari dan sekarang sedang dikejar hingga beres selesai semuanya,” katanya.

Terkait tower crane yang terlambat diturunkan, karena ada aturan dari Menteri Perhubungan bahwa menjelang Natal dan Tahun Baru, tidak boleh ada alat berat yang melintas di Jalan Tol, sehingga tower crine itu belum diturunkan dan masih menempel di bangunan. Padahal fisik pembangunannya sudah selesai. Tetapi pada 28 Desember kemarin tower crane sudah diturunkan dan dirapihkan.

Sejak awal mulai pembangunan, lanjut Tri Suroto, ada sejumlah kendala dan kesulitan kesulitan yang dihadapi. 

Pertama lokasi yang akan dibangun itu bukan tanah kosong tetapi ada bangunan ekisting dan soal akses ke bangunan ekisting itu berada di tengah tengah dan aksesnya tidak ada. Sedangkan untuk bangunan ekisting itu harus dibongkar dan dirapihkan. 

“Pembongkaran bangunan itu memiliki waktu sekitar 45 hari, sehingga waktu pembangunan tersita oleh kegiatan pembongkaran ekisting itu. Jadi ada barang-barang yang tetap harus utuh tidak rusak saat dibongkar, yang akhirnya menghabiskan waktu diawal mulai kerja. Ditambah harus membongkar bangunan lama plus power house ada tiga meter untuk menyuplai kebutuhan rumah sakit yang tidak bisa diganggu gugat dan harus tetap operasional berjalan,” jelasnya.

Terdapat juga beberapa faktor yang menghambat waktu kerja, sehingga otomatis target yang sudah direncanakan berkurang. Dengan keterlambatan waktu penyelesaian ini, ditargetkan sesuai dengan perpanjangan waktu yang sudah diajukan, pembangunan secara keseluruhan akan selesai di 30 Desember. 

“Kita juga sudah melakukan penambahan pekerja 27 orang khusus penyelesaian di lantai atas, sehingga total pekerja saat ini 524 orang dengan jam kerja selama 24 jam penuh tanpa berhenti,” ucapnya.

Pihak perusahaan PT Trikencana Sakti Utama juga sudah menerima sanksi atas keterlambatan tidak tepat waktu itu, diantaranya dikenai sanksi finalty sebesar Rp81 juta setiap hari. Namun demikian, ada pula sejumlah jaminan dari pihak perusahaan yang berada di PPK diantaranya, jaminan uang muka dan jaminan pelaksanaan senilai Rp9 Miliar, jaminan pemeliharaan Rp4,4 Miliar. Jadi untuk sanksi finalty keterlambatan kerja setiap hari Rp81 juta, akan disetorkan kembali ke kas daerah.

“Kami sudah kena sanksi finalty dan sudah berjalan denda sehari Rp81 juta. Intinya kami akan secepatnya menyelesaikan seluruh pembangunan ini dengan hasil yang berkualitas,” tandasnya.

Sebelum dilakukan serah terima penyelesaian pada 30 Desember nanti, akan dilakukan pengecekan menyeluruh untuk memastikan kualitas hasil pekerjaan. Termasuk nanti juga ada penyempurnaan selama dua minggu setelah serah terima. BAST2 akan dilaksanakan di Juni 2020 nanti, artinya selama enam bulan masa pemeliharaan, semua yang terjadi masih tangung jawab kontraktor pelaksana PT Trikencana Sakti Utama.

Terpisah, Dirut RSUD, Dr. Ilham Chaidir menerangkan, semenjak tanggal 28 Oktober dilantik, Ilham mempelajari dan menyimpulkan bahwa proses pembangunan blok 3 patut diapresiasi.  Sebabnya adalah,  pertama  hanya orang dan perusahaan yang punya keberanian yang mampu melakukan pembangunan ini, kalau boleh dibilang gila.  

“Bayangan saya, tingkat kesulitannya sangat tinggi, manufer sangat terbatas,  dengan aktivitas pembangunan dengan tingkat kesulitan sangat tinggi. Belum lagi harus berhadapan dengan pelayanan super sibuk RSUD yang tidak boleh terganggu,  jaringan optik dan listrik yang tidak boleh terputus.  Pembangunan blok 3 ini normalnya membutuhkan waktu 8 hingga 10 bulan, tapi dilakukan dalam 5 bulan setengah saja,” bebernya.

Kemudian Ilham juga sangat mengapresiasi kualitas alat dan bahan, batu granit, alumunium, atap, genset,  lift, semua adalah bahan nomer satu dan terbaik. Jadi memang ukuran normal dalam menilai, pasti gak akan terkejar.  

“Dan saya cukup memahami penilaian ini. Tapi ternyata penilaian ini dijadikan pelecut oleh pihak yang terlibat dalam pembangunan, sebagai motivasi memberikan semua usaha dan daya upaya maksimal.  Hasilnya saya yakin ditanggal 31 Desember selesai. Januari 2020 nanti, Insya Allah bisa digunakan,” katanya optimis. (*)

Editor : Edwin Suwandana

What's your reaction?

Post a Comment